Jumat, 18 April 2014

Membangun Indonesia dengan ASEAN Community 2015 Melalui Pendidikan


Sejak berdiri pada tanggal 7 Agustus 1967, ASEAN telah menjadi wadah bagi 10 negara anggotanya, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Laos, Kamboja, Brunei Darussalam, Vietnam dan Myanmar. Melalui ASEAN, telah banyak dibentuk dan dibuat bermacam komunitas dan perjanjian bilateral. Namun, hal itu belum mampu meningkatkan kesejahteraan masing-masing anggota. Hal ini dibuktikan dengan mayoritas dari negara anggota ASEAN masih menyandang predikat sebagai “Negara Dunia Ketiga”, kecuali Singapura.

Mengintip kepada negara barat, yakni Eropa, di sana mereka memiliki UNI EROPA yang berfungsi sebagai ‘rumah’ yang menghimpun seluruh negara anggotanya. Mereka percaya bahwa jika mereka bersatu, maka mereka akan menjadi kuat dan hal ini juga akan berimplikasi kepada peningkatan kesejahteraan negara anggota masing-masing. Mereka ingin membangun kekuatan yang solid di dunia. Guna memperlancar visi, mereka melakukan misi yakni membuat satu mata uang kolektif, yaitu Euro. Sampai saat ini, kedudukan Euro berada di peringkat kedua sebagai mata uang terkuat setelah Poundsterling.

Atas dasar itulah, pada tahun 2015, ASEAN akan membentuk sebuah program perhimpunan seperti UNI EROPA yang bernama ASEAN Community 2015. Awalnya, pembentukan ASEAN Community ini dicanangkan pada tahun 2020. Namun, melihat berbagai permasalahan yang semakin kompleks dan pertumbuhan ekonomi yang cenderung meningkat, maka pembentukan ASEAN Community menjadi tahun 2015.

Tujuan ASEAN Community 2015 adalah untuk menyejahterakan kehidupan warga negara anggota ASEAN dan menjadikan ASEAN sebagai kekuatan dunia di bidang ekonomi, politik dan sosial budaya. Untuk mencapai itu semua, maka ASEAN Community 2015 dibangun atas 3 pilar utama, yakni Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN.

Salah satu hal yang sangat mencolok dari terbentuknya ASEAN Community 2015 ini adalah akses antarnegara anggota terbuka lebar tanpa hambatan. Dengan kata lain, terjadinya pasar bebas di segala bidang. Ini artinya, antaranggota ASEAN dapat saling masuk ke negara ASEAN lainnya untuk berinvestasi tanpa terkena pajak (bea) dengan tetap meminta izin kepada negara bersangkutan. Investasi yang dapat berupa pemasukan (impor) produk, pembangunan pabrik, penyaluran tenaga kerja dan bahkan pembangunan universitas/sekolah sekalipun.

Pasar bebas ini akan mempengaruhi berbagai macam kebijakan dan dinamika kehidupan negara di daerah Asia Tenggara. Setiap negara akan berusaha meningkatkan kualitas ekonomi, penguatan keamanan negara dan politik serta budaya masing-masing negara. Hal ini akan merambah kepada penetapan peraturan baru hingga penyusunan rancangan anggaran.

Dampak juga akan dirasakan oleh para pengusaha, terutama pengusaha besar. Mereka akan berlomba-lomba meningkatkan kualitas produksi dan pengusahaan ekspor. Mereka harus bersaing dengan investor asing yang memiliki perusahaan-perusahaan dan pengaruh besar. Persaingan tidak hanya menyangkut masalah modal mauoun produksi, melainkan juga persaingan dalam menjaring tenaga kerja yang handal. Mereka akan memilih tenaga-tenaga kerja yang handal yang berasal dari berbagai negara ASEAN.

Persaingan di bidang pendidikan pun tak terelakkan. Para lembaga pendidikan pasti akan menyiapkan strategi agar dapat bersaing secara global. Hal ini dikarenakan mereka dapat masuk ke negara lain tanpa bea, baik negeri maupun swasta. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan lembaga pendidikan di Indonesia yang tidak mampu bersaing dengan universitas-universitas asing yang memiliki kualitas jauh di atas Indonesia, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand, baik dari segi kurikulum maupun fasilitas. Oleh karena itu, peningkatan mutu menjadi harga mati bagi lembaga pendidikan di Indonesia dalam rangka menyongsong ASEAN Community 2015.

Peningkatan mutu juga harus dilakukan kepada para pengajar. Sampai saat ini, jumlah pengajar di Indonesia yang merupakan lulusan SMA sederajat sebesar 20% dari total jumlah guru di Indonesia. Padahal di Singapura, siswa-siswi SD diampu oleh lulusan S2. Ini menunjukkan masih rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) guru-guru di Indonesia. Jika hal ini dibiarkan, maka ketika ASEAN Community 2015, bukan mustahil Indonesia bakal mendatangkan guru dari luar negeri. Tentunya hal ini harus diperbaiki.

Kedua komponen di atas --- lembaga pendidikan dan guru --- sangat signifikan dampaknya bagi pelajar/mahasiswa. Mereka akan berkualitas jika diampu oleh pengajar profesional dan lembaga pendidikan yang berkompeten. Hal ini sangat penting mengingat pada tahun 2020, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Ini adalah kondisi di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar daripada jumlah penduduk usia tidak produktif dengan perbandingan 44 per 100. Maksudnya, 100 orang usia produktif menanggung 44 orang usia tidak produktif.

Kondisi tersebut sangat menguntungkan bagi Indonesia karena Indonesia akan dipimpin oleh orang-orang usia produktif. Penelitian menunjukkan bahwa negara yang memiliki bonus demografi tidak akan lama lagi menjadi negara maju. Tentu saja dengan catatan, orang-orang usia produktif adalah orang-orang yang dapat diandalkan dan memiliki keahlian. Dengan kata lain, Indonesia akan segera menjadi negara maju.

Keahlian dasar yang wajib dimiliki adalah kemampuan berbahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa asing, dan keterampilan menggunakan komputer. Kedua hal tersebut merupakan hal dasar yang akan ditemui di kehidupan sehari-hari kita, terutama di dunia kerja kelak. Hal ini menjadi sangat urgen mengingat akan dibentuknya ASEAN Community 2015 yang memberikan kesempatan bagi siapa saja yang ingin bekerja di negara ASEAN manapun. Ditambah lagi, di hampir seluruh negara ASEAN, pelajaran Bahasa Indonesia telah dimasukkan ke dalam kurikulum dan diajarkan kepada siswa-siswinya. Ini dilakukan agar mereka mampu masuk ke pasar Indonesia yang memang memiliki posisi paling strategis untuk melakukan investasi di daerah Asia Tenggara. Kalau kita tidak memiliki keahlian dasar, maka kita akan menjadi budak di negeri sendiri.

Namun, kalau kita memiliki keahlian dasar tersebut, maka kita akan menjadi tuan di rumah sendiri. Bahkan tidak hanya itu, kita juga dapat menembus pasar Internasional dan menguasai investasi di sana. Hal ini akan berdampak kepada kesejahteraan bagi Indonesia. Inilah tentu yang diharapkan dari ASEAN Community 2015 bagi Indonesia.

Generasi penerus ini harus dididik dengan sungguh-sungguh agar ia dapat membangun bangsa ini menjadi negara maju. Maka dari itu, sangat dibutuhkan andil para pengajar untuk dapat mewujudkan itu semua. Dengan kata lain, para pengajar masa kini juga merupakan penentu kehidupan bangsa di masa mendatang.

Intinya, dalam rangka menyongsong ASEAN Community 2015, maka diperlukan penguatan di bidang pendidikan. Ini dikarenakan pendidikan menjadi tonggak utama dalam rangka membangun bangsa di masa mendatang. Dengan pilar yang kuat, maka bangsa yang ditopang pun akan berdiri kokoh. Namun, jika pilarnya rapuh, maka bangsa yang ditopang akan ambruk. Oleh karena itu, sebagai generasi muda, marilah kita bangun bangsa ini melalui ASEAN Community 2015. Indonesia, bisa! Ayo kreatif demi Indonesia!

0 komentar:

Posting Komentar