Jumat, 14 Juni 2013

Berjuta Kenikmatan dalam Ber-Islam


Lahir sebagai seorang muslim memberikan rasa  syukur tersendiri bagiku. Rasa syukur ini baru aku rasakan sewaktu aku duduk di bangku SMP di mana ketika aku mulai mendalami Islam beserta ajaran-ajarannya.
Keluargaku merupakan muslim yang taat. Meskipun ayah dan ibuku bukan seorang mubaligh, namun mereka selalu menekankan akan pendidikan agama Islam dalam kehidupan, dari beribadah, akhlak dan lain sebagainya. Selain itu, kedua orang tuaku juga selalu mempertimbangkan pendidikan Islam di sekolah yang akan kami masuki. Hal ini, secara tidak langsung juga membentuk kepribadian Islamku secara utuh.

Sewaktu di bangku SD, aku belum begitu menaruh perhatian terhadap ajaran agama (baca: Islam). Tetapi, ketika aku masuk SMP, aku mulai menaruh perhatian terhadap Islam melalui pendidikan yang diajarkan oleh sekolahku yang berbasis Islam. Pelajaran-pelajaran yang kudapati pun membuatku semakin penasaran akan Islam, seperti ‘aqidah, akhlak, ibadah, fiqih, bahasa arab dan lain sebagainya.
Seusai SMP, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah di luar pulau, tepatnya di Yogyakarta yang terkenal sebagai ‘Kota Pelajar’. Aku memilih melanjutkan pendidikanku di pesantren berdasar kepada rasa penasaranku akan Islam. Selama di pesantren, cakrawalaku akan Islam semakin meluas. Informasi kudapatkan dari berbagai macam penjuru, mulai dari dalam kelas, diskusi denagn teman, studi pustaka, mengamati perilaku orang lain dan banyak lagi. Setelah lama menjalaninya dan mendapati ilmunya, aku pun semakin sadar bahwa agama Isalm adalah agama yang benar dan aku harus bersyukur karena telah dilahirkan sebagai muslim.
Alasan pertama yang membuatku bangga menjadi sorang muslim adalah seluruh aktivitas/kegiatan kita itu bernilai ibadah jika kita melakukannya dengan sepenuh hati untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Bernafas pun bisa bernilai ibadah. Makan, minum, berjalan, belajar semuanya bisa bernilai ibadah. Kita tahu bahwa balasan dari ibadah adalah pahala. Oleh karena itu, ketika kita melakukan aktivitas secara ikhlas, maka itu akan bernilai ibadah di mata Allah dan kita pun mendapatkan pahala. Luar biasa,  bukan? Agama mana yang bisa menjadikan aktivitas di dunia sebagai ibadah? Tidak ada, melainkan Islam.
Islam juga agama yang membawa manfaat bagi umatnya dalam keadaan apapun. Ketika kita dalam keadaan sulit, maka kita sebagai muslim lantas bersabar akannya dan mencari jalan keluar untuk mengakhirinya. Hal ini kan luar biasa. Ketika kita bersabar, maka sebenarnya kita sedang menjernihkan pikiran dan mencoba untuk introspeksi diri. Tidak hanya sabar secara ‘pasrah’, tetapi sabar yang benar adalah menerima dan mencari solusi. Ketika mencari solusi, kita ditempa untuk kreatif dan mandiri.
Dalam keadaan sakit, pun kita bisa memperoleh berkah yang luar biasa. Jika kita senantiasa bersabar dalam menghadapi sakit tersebut dan berusaha untuk sembuh, maka sakit yang kita rasakan tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa kita sedikit demi sedikit. Allah Maha Adil, ya? Sakit pun memberikan kenikmatan yang indah bagi kita, kan? Agama mana yang seinda Islam?
Saat kita dalam keadaan senang bahagia pun kita bisa mengambil manfaat darinya. Kita akan bersyukur akan kesenangan yang sedang telah kita rasakan. Ketika bersyukur, kita sedang dilatih untuk tidak menganggap diri sombong dan belajar rasa terima kasih kepada orang lain. Selain berterima kasih, kita juga wajib untuk menyalurkannya dalam kebaikan. Jika kita menyalurkannya dalam kejahatan, maka kita telah menyia-nyiakan nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Diberikan nimat malah menyia-nyiakan, rugi bukan? Tetapi jika kita memanfaatkannya dengan baik, maka kita akan memperoleh kenikmatan ganda. Sempurna sekali Islam, bukan?
Agama Islam juga merupakan satu-satunya agama yang menghormati hak-hak kaum wanita. Ketika orang-orang sibuk dengan emansipasi wanita, maka Islam telah mengajarkannya kepada kita sejak dahulu melalui para Nabi dan Rasulnya. Islam begitu menghormati wanita, sampai-sampai dalam al-Qur’an sendiri, terdapat satu surat khusus yang bernama ‘an-Nisa’’ yang berarti perempuan-perempuan. Ini kan bentuk kemuliaan wanita yang harus dijaga dan dihormati sesuai dengan yang Islam ajarkan kepada kita.
Dalam hal syariat, Islam juga telah mengajarkan wanita untuk menutup auratnya dan tidak mengumbarnya di depan umum, kecuali kepada mahromnya (suami). Secara psikologis, syariat ini membuat harga diri dan derajat wanita itu sendiri tidak dipandang rendah oleh laki-laki. Karena memang banyak laki-laki yang memandang rendah perempuan denagn menjustifikasi semua perempuan itu ‘murah’ karena penampilannya yang sembrono. Padahal, jikalau wanita-wanita menjalankan syariat Islam ini, maka aura kewibawaan mereka sebagai seorang wanita yang seutuhnya akan tercermin.
Faktanya, banayknya kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap kaum hawa disebabkan oleh perilaku dan penampilan wanita itu sendiri yang secara tidak langsung ‘memberikan’ dirinya kepada laki-laki. Mereka sengaja mengenakan pakaian ketat dan pendek yang membuat mereka mereka merasa lebih ‘seksi’ katanya. Padahal jika mereka mengetahui dampaknya, mereka sedang menjatuhkan harga diri mereka di depan laki-laki. Ketika mereka berusaha untuk menjaga diri mereka dengan cara menutup aurat mereka, maka Allah pasti akan menjaga diri mereka juga.
Islam juga mengajarkan kepada kita untuk mendahulukan ibu daripada ayah. Ibu adalah seorang wanita. Tentu kita bertanya, kenapa harus ibu? Jawabannya adalah karena memang ibulah yang secara langsung merawat kita dan merasakan sakit jika kita terluka atau menyakitinya, karena memang perasaan wanit atiu lebih sensitif daripada laki-laki. Ini adalah bentuk penghormatan Islam kepada wanita yang lebih tinggi. Subhanallah, ternyata Islam menghormati wanita dengan sangat santun.
Selain itu, islam merupakan agama yang selaras dengan perkembangan zaman manusia. Islam bukan agama yang cocok bagi masyarakat pedalaman kuno, tetapi bagi masyarakat berperadaban tinggi. Hal ini bisa silihat dari seluruh hal dalam Islam yang bisa hidup berdampingan denagn zaman. Misalnya dalam menentukan hukum, Islam selalu bersandar kepada al-Qur’an dan as-Sunnah yang telah ada sejak ratusan tahun dahulu, namun penerapannya pada masa kini selalu saja sinkron. Ini membuktikan bahwa Islam itu adalah agama sepanjang zaman bagi seluruh umat manusia.
Memang, untuk dapat menimbulkan perasaan bangga akan Islam, kita harus mempelajarinya dan mendalaminya, karena dengan mendalaminya kita baru akan menemukan keindahan hidup beragama Islam. Tetapi jika kita hanya menjadikannay sebagai agama formalitas, maka kita akan hidup tanpa dinamika keindahan Islam. Maka wajar jika non-muslim selalu menentang Islam. Hal ini karena mereka tidak paham akan Islam itu sendiri. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama semakin memperdalam dan mempelajari Islam dalam kehidupan kita sehari-hari, agar Islam yang telah ada dalam diri kita bisa bermanfaat bagi diri kita secara totalitas.
Hal di atas hanya beberapa hal yang membuat saya bangga menjadi seorang muslim. Kalau saya sebutkan kesemuanya, maka 7 jilid buku Harry Potter tidak akan cukup menampungnya, karena memang banyak sekali keindahan Islam yang patut kita banggakan. Allahu Akbar!

0 komentar:

Posting Komentar